Karena Berbagi Tak Pernah Rugi

Yuk Cakap Bermedia Sosial !

3 158

- Advertisement -

Jarak bukan halangan bagi saya dan beberapa temen-temen blogger dan pegiat sosmed di Solo untuk hadir di diskusi publik “Cakap Bermedia Sosial” yang diselenggarakan di hotel Melia Purosani Jogja pada Jum’at, 27 Mei 2016 kemarin. Kami berangkat dengan “semangat 45” pukul 06.30 WIB menuju Jogja dan sampai di lokasi acara sekitar pukul 08.30 WIB.

O ya acara ini digelar sebagai bagian dari launching buku “Cakap (Cerdas, Kreatif, Produktif) Bermedia Sosial” yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo). Jogja memang istimewa, untuk pertama kalinya mendapat kesempatan membedah sekaligus menikmati buku ini sebelum dilaunching secara resmi di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Hendry Subiakto, Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga yang juga Staff Ahli Kominfo; Kang Arul, Doktor Cyberculture serta budaya-budaya (di) internet UGM yang juga merupakan blogger; dan Pakde Senggol, founder JogjaUpdate.

Prof. Dr. Hendry Subiakto, Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga & Staff Ahli Kominfo
Prof. Dr. Hendry Subiakto, Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga & Staff Ahli Kominfo

Dalam pemaparannya Prof. Dr. Hendry Subiakto menyatakan bahwa saat ini rasanya sulit untuk melepaskan diri dari gadget atau media sosial seperti facebook, twitter, BBM, youtube, instagram dan media sosial lainnya. Dengan mudahnya dapat diakses oleh siapa saja. Kapan dan kemanapun kita pergi, kita akan dengan mudah menjumpai orang-orang yang sedang asyik dengan gadget. Kebutuhan akan keberagaman informasi menunjukkan kemajuan generasi. Keberadaan media sosial memberikan gambaran seolah-olah dunia tanpa batas.

Dari data yang ada, pertumbuhan gadget di Indonesia sangatlah tinggi, jumlah gadget yang beredar dimasyarakat di angka 318 juta jauh diatas jumlah penduduk Indonesia yang saat ini berjumlah 250 jt. Ini berarti satu orang bisa memiliki dua atau lebih gadget.

Pada awalnya media sosial cenderung dimanfaatkan oleh masyarakat umum hanya sebatas untuk menyambung silaturahim antar teman, keluarga yang sudah terpisah baik karena sekolah, bekerja di luar kota, atau karena menikah yang kemudian berpindah rumah. Namun seiring dengan berkembangnya fasilitas serta semakin banyaknya pengguna dari media sosial tersebut, masyarakat didalam memanfaatkanya juga semakin beragam. Ada yang digunakan untuk berbisnis secara online, dikalangan politisi media sosial digunakan untuk menjaring aspirasi masyarakat, untuk menulis, namun ada juga yang digunakan untuk melakukan kejahatan.

Bersama Kang Arul, Sang Dosen galau :)
Bersama Kang Arul, Sang Dosen galau 🙂

Sementara itu Kang Arul memaparkan saat ini muncul sindrom yang menghinggapi para penggila media sosial yang disebut FoMo (Fear of Missing out), dimana seseorang merasa takut ketinggalan berita terbaru dimedia sosial. Ciri orang yang mempunyai sindrom ini yakni selalu mengecek media sosial, membuka media sosial setiap 30 menit, dimanapun selalu online, resah jika bepergian tanpa sinyal, asyik dengan gadget sendiri saat berkumpul dengan orang lain, merasa wajib membagi setiap peristiwa yang dialami dan aktif dalam semua kegiatan media sosial, selalu ingin lebih (pamer pencapaian agar dikagumi). Sindrom ini lama kelamaan akan berdampak psikologis terhadap penderitanya.

Teknologi dan modernisasi telah mengubah kebiasaan hidup menjadi lebih efisien, praktis dan dinamis. Namun disisi lain teknologi dalam hal ini internet dapat mengakibatkan adanya perubahan jarak, yakni menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Hal ini berpengaruh juga terhadap kehidupan keluarga dan sosial karena mengabaikan sekeliling kita, menjadikan minim sosialisasi dengan lingkungan sekitar karena sibuk dengan gadget dan media sosial. Menjadikan kurang peka terhadap teman, malas menyapa dengan bahasa sapaan yang baik, kemampuan menjaga rahasia hilang, informasi tidak asli lagi, cuek dan individualis.

Diskusi Publik Cakap Bermedia SosialPakde Senggol yang telah berpengalaman mengelola akun Jogja Update memaparkan perkembangan sosmed di Indonesia dan Jogja. Sebagaimana kita ketahui penggunaan internet terus tumbuh di Indonesia. Kebiasaan bercakap-cakap dan berkomunikasi merupakan salah satu alasan mengapa orang Indonesia tertarik bersosial media. Aktifitas warga Indonesia di media sosial mencapai 79,72 %, tertinggi di Asia. Twitter untuk berbagi informasi kini mulai sering menjadi ajang mencela lawan yang berbeda pendapat, menjadi sebuah arena baru untuk berperang.

Media sosial sendiri sejatinya memiliki berbagai manfaat :

  • komunikasi online
  • interaksi sosial online
  • Informasi dan pengetahuan
  • Komunitas Online
  • Mendapat hiburan
  • marketing dan bisnis

“Jarimu harimaumu” sebuah ungkapan yang tepat agar lebih berhati-hati di media sosial. Media sosial memiliki manfaat yang sangat besar dalam kehidupan, namun penggunaannya harus bijaksana agar tidak mencelakakan diri sendiri.

Media sosial memberikan peluang usaha dan kesempatan yang tidak terbatas. Melalui media sosial kita bisa mendapatkan penghasilan yang menjanjikan. Media sosial bisa dijadikan networking kita dan dijadikan peluang untuk berbisnis melalui networking tersebut. Media sosial dapat memperluas relasi dan membangun komunitas, bisa berbagi ilmu pengetahuan. Dari sosial media kita juga mendapatkan inspirasi dari tokoh-tokoh yang berhasil dengan memanfaatkan media sosial, sebut saja Raditya Dika yang berhasil menerbitkan novel dan membuat film dari cerita keseharian di blog pribadinya. Atau Isyana Sarasvati yang merupakan salah satu penyanyi muda paling populer di Indonesia memulainya dengan mengaransem musik melalui youtube dan masih banyak yang lain. Intinya bagaimana kita bisa memanfaat semaksimal mungkin teknologi yang ada untuk melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat.

Tips aman bermedia sosial menurut Prof. Dr. Hendry Subiakto :

  • Tidak memasang nama dan profil lengkap
  • Tidak sembarang memasang foto atau video pribadi
  • Berhati-hati dalam mengekspresikan dan menyampaikan perasaan melalui internet
  • Selalu mengecek kebenaran informasi yang diterima melalui internet
  • Putuskan komunikasi dengan orang asing yang menunjukkan itikad tidak baik

Bermedia sosial seharusnya membuat kita cerdas, peduli dan tidak berlebihan. Tidak hanya menjadi generasi wacana tanpa tindakan nyata.

- Advertisement -

  1. Hastira says

    yup, kalau aku sih bikin status yang membawa kebaikan dan bermanfaat bagi banyak orang

    1. Dimas Suyatno says

      Betul. Saling berbagi info dan kebaikan

  2. […] Baca juga : Yuk Cakap Bermedia Sosial ! […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.