107 Tahun Wayang Orang Sriwedari

Ada yang rindu dengan tontonan masa lalu, melipirlah ke Gedung Wayang Orang Sriwedari.  Kita dapat menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

Tahun ini Wayang Orang Sriwedari genap berusia 107 tahun. Tepatnya Sabtu malam tanggal 8 Juli 2017 kemarin,  Wayang Orang Sriwedari merayakan hari jadinya yang ke 107 tahun. Usia yang lebih dari satu abad menandakan bahwa Wayang Orang Sriwedari masih bisa eksis, bertahan dan tak tergerus oleh zaman.

Wayang Orang Sriwedari menggelar pentas yang spesial untuk merayakan hari jadinya dengan lakon Gondhang Jagad, Gondhang Dewa (Srikandi Larasati Kembar) yang disutradari oleh Sulistya  dan diperankan oleh gabungan pemain maestro dari berbagai kelompok kesenian wayang orang dari Wayang Orang Bharata Jakarta, Ngesti Pandhawa Semarang, RRI Solo dan Sriwedari Solo serta dari ISI Surakarta.

Pentas kali semakin istimewa dengan hadirnya mantan Panglima TNI Jendral TNI (Pur) Dr. Moeldoko yang bertepatan dengan ulang tahun ke-60 pada tanggal yang sama. Acara diawali dengan arak-arakan dua tumpeng gunungan dari depan pintu masuk menuju kedalam gedung Wayang Orang Sriwedari. Acara dibuka dengan pemotongan kedua tumpeng oleh Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo dan Jendral TNI (Pur) Dr. Moeldoko.

Lakon Srikandhi – Larasti Kembar Gondhang Jagat – Gondhang Dewa mengisahkan tentang sosok prajurit wanita Srikandhi – Larasati yang tidak gentar dengan percobaan hidup demi mempertahankan kebenaran sebagai penegak keadilan yang sama dengan kesatriya lainnya. Dalam cerita ini, mencari hilangnya Pusaka Madukara dengan bantuan Sri Kresna dan putra Pandhawa dan berhasil mengembalikan Pusaka Sakti Madukara serta menghalau dan membunuh angkara murka yang akan menghancurkan ketentraman negara Amarta dan Madukara.

Dikisahkan dari Kerajaan Kondabumi, Prabu Kandha Bawana ingin membalas dendam kepada Arjuna karena telah membunuh ayahandanya Prabu Kandha Purnama. Patih Anom Kandha Dewa, Patih Kandha Maruta dan Patih Kandha Wasesa memimpin prajurit raksasa menghadap Prabu Kandha Bawana untuk menerima perintah membalaskan dendam kepada Arjuna. Dalam pertemuan tersebut Resi Durna dari Sukalima menjelaskan bahwa Nawangwulan dan Nawangsih putri Prabu Kandha Bawana yang akan mencuri tiga pusaka sakti andalan Arjuna yaitu pasopati, sarotama dan pulanggeni. Resi Durna menyuruh patih untuk mengawalnya.

Ditengah cerita Punakawan muncul, Punawakan beristirahat melepas lelah dengan menghibur diri ala mereka yang membuat penonton tertawa melihat aksi mereka. Punakawan juga memaksa Jendral TNI (Pur) Dr. Moeldoko untuk ikut naik keatas panggung. Akhirnya Moeldoko pun naik ke pentas dan ikut serta dalam banyolan  mereka dan bernyanyi.

Kisah selanjutnya yakni di hutan Krendhayana, Nawangwulan dan Nawangsih bertapa. Ditengah pertapaan mereka muncullah sosok pocong dan hantu yang membuat gelak tawa pentonton karena tingkah lucu mereka. Kemudian dalam pertapaan muncullah Dewi Durga yang membantu mereka berubah wujud menjadi Srikandhi – Larasati.

Sementara itu perjalanan Gondhang Jagat dan Gondhang Dewa dari pertapaan Pucang Sewu dihadang raksasa hutan yang ingin membunuhnya maka terjadi pertempuran hebat diantara mereka yang dimenangkan oelh Gondhang Jagat – Gondhang Dewa.

Di Madukara, Raden Arjuna akan menjamasi pusaka miliknya, yakni pulanggeni, sarotama dan pasopati saat Patih Surata dan Patih Sucitra menghadap. Ketika itu muncul Srikandhi – Larasati palsu dan mengambil ketiga pusaka tersebut dengan berpura-pura atas suruhan Arjuna. Raden Arjuna kemudian menuduh Srikandhi dan Larasati yang mencuri ketiga pusakanya karena mendapat laporan dari patihnya.

Dalam kesempatan yang sama Sri Kresna menyatakan ada wujud Srikandi dan Larasati kembar, yang tak lain merupakan penjelmaan dari Dewi Nawangwulan dan Dewi Nawangsih putri Prabu Kandha Bawana yang berniat membunuh Arjuna.

Atas kehendak dari Hyang Agung Nawangwulan dan Nawangsih berbalik kiblat menjadi menantu Raden Arjuna dan menjadi istri dari Gondhang Jagad – Gondhang Dewa putra kembar Raden Arjuna.

Gedung Wayang Orang Sriwedari pada malam pentas itu dipadati penonton, bahkan penonton sampai berdiri karena sudah tidak ada tempat lagi. Dalam pertunjukan kali ini pemain senior berkolaborasi apik dengan pemain generasi muda.

***

WAYANG ORANG SRIWEDARI

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari hadir setiap hari mulai hari Senin sampai Sabtu pukul 20.00 WIB – selesai.

Retribusi : Area Tribun Rp. 5.000,-, Area Utama Rp. 7.500,-, Area VIP Rp. 10.000,-

Tempat : Gedung Wayang Orang Sriwedari Kota Solo, Jl. Brigjen Slamet Riyadi No. 275 Surakarta