Karena Berbagi Tak Pernah Rugi

Serunya Cultural Trip ke Masjid Agung & Sentra Industri Gamelan Wirun

1 281

- Advertisement -

Beruntung sekali saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti cultural trip yang juga merupakan rangkaian dari Safari Beduk Asyiik yang diadakan di Solo. Meskipun saya sudah lama tinggal di Solo, terus terang baru kali ini saya mengunjungi sentra industri gamelan di Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Padahal lokasinya sangat dekat dengan kota Solo.

Gerbang Masjid Agung Surakarta

Cultural trip ini diikuti oleh beberapa blogger dari Solo dan Jogja serta temen-temen jurnalis. Kumpul pukul 10.00 WIB di Rumah Turi, Solo peserta dijelaskan tujuan serta lokasi cultural trip siang itu. Sekitar pukul 11.30 kami berjalan menuju masjid Agung Surakarta. Masjid agung Surakarta dibangun oleh Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749. Masjid Agung berdiri diatas tanah seluas hambir 1 ha. Lokasinya di tengah kota, bersebelahan dengan pasar Klewer serta merupakan bagian tak terpisahkan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Ruangan utama masjid

Di masjid Agung ini terdapat bedug yang telah berumur ratusan tahun dan masih digunakan hingga saat ini. Bedug ini dipukul saat menjelang sholat Dhuhur, Asar, Maghrib dan saat menjelang Sholat Jum’at. Bedug menjadi alat utama sebagai media penanda waktu sholat. Meskipun sudah ada toa/sound system namun Bedug ini tetap digunakan hingga kini.

Menara Masjid Agung

Bedug sendiri menurut catatan  dikenal sejak interaksi perdagangan antara Nusantara dengan bangsa lain seperti India, Cina dan Timur Tengah semakin intens. Hal ini merujuk pada ekspedisi Dinasti Ming China ke Nusantara yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho pada awal abad ke-153. Besarnya armada ekspedisi ini, menuntut adanya sebuah sarana untuk dapat mengumpulkan seluruh awak kapal apabila diperlukan. Dalam setiap kapal terdapat sebuah tambur besar dengan membran kulit hewan yang diletakkan pada sebuah penampang penyangga. Sebagai seorang muslim, Laksamana Cheng Ho membutuhkan sarana menyampaikan waktu ibadah sholat pada seluruh awak kapal yang sebagian adalah penganut Islam. Instrumen yang kelak kita kenal dengan sebutan bedug inilah yang berfungsi sebagai tanda untuk berkumpul.

Saat ini selain ranah peribadatan, bedug juga memiliki fungsi penting dalam ranah sosial kemasyarakatan yang hampir mirip dengan fungsi kenthongan. Dalam kehidupan kemasyarakatan Indonesia yang komunal dan mengedepankan rasa gotong royong, bedug dan kenthongan bukanlah semata tanda untuk berkumpul. Hingga kini, tradisi menabuh bedug sebagai penanda waktu ibadah tetap bertahan dalam masyarakat muslim di Indonesia. Namun, tak hanya itu. Tabuh bedug juga kerap digelar sebagai hajatan warga menyambut momen-momen sosial yang penting. Bedug merupakan perekat sosial yang sarat dengan nilai kebersamaan.

Jam & logo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Setelah sholat dhuhur berjamaah, kami diajak mengamati arsitektur masjid Agung Surakarta mulai dari gapura, pagongan (pendopo), menara adzan, istiwak (jam matahari), serambi, hingga ruang utama.

Hampir satu jam kami berada di masjid Agung, kamipun melanjutkan perjalanan Cultural Trip ke Desa Wirun, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Kami mengunjungi industri kecil gamelan UD. Supoyo. Dari sinilah gamelan itu dibuat, hingga saat ini UD. Supoyo telah memproduksi ratusan gamelan dan digunakan diberbagai daerah dan berbagai negara mulai dari Bali, Bandung, Jakarta, Malaysia hingga Singapura.

Industri Gamelan di desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo

Disini kita bisa melihat proses panjang pembuatan gamelan mulai dari awal hingga sudah terbentuk gamelan. Gamelan-gamelan ini dikerjakan di workshop milik bapak Supoyo. Ada puluhan pekerja yang terlibat dalam industri ini. Berbeda dengan industri kecil lain, gamelan melewati proses yang panjang. Saat memasuki ruang yang difungsikan sebagai tempat untuk membakar timah dan tembaga, kita akan merasakan suasana panas. Saat kami datang, ada beberapa orang yang sedang bekerja memanaskan tembaga dan timah untuk dibentuk menjadi gamelan. Menurut penuturan pekerja, diperlukan beberapa hari untuk menghasilkan gamelan jadi. Untuk satu set gamelan dibutuhkan waktu hingga 1-2 bulan lamanya.

Bedug juga dipake untuk gamelan, bentuknya berbeda dari bedug yang biasa digunakan di masjid

Pemasaran gamelan UD. Supoyo hingga mancanegara. Pemesanan tidak hanya dalam satu set lengkap, pemesanan satuan juga dilayani.

Selesai dari desa Wirun, kami diajak ke venue utama Bedug Asyiiik di lap. Mojolaban. Disini sudah bersiap beberapa group seni bedug yang akan memamerkan kekompakan mereka memainkan bedug. Sebagai juri ada Joko Suranto “Gombloh” yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Pemenang lomba ini pada malam harinya berkolaborasi memainkan irama bedug nan rancak dan asyik Diakhir acara panitia juga menghadirkan group musik papan atas Repvlik dan Tipe X.

Penampilan Repvblik dan Tipe X di akhir acara Bedug Asyiik

- Advertisement -

  1. Norwegia

    Norwegia

    Fantastyczny tekst Brawo! szczególnie spodobała mi się szata graficzna twojego bloga 🙂 zapraszam do siebie…

Leave A Reply

Your email address will not be published.